Hujan terus turun dari langit kotaku, hampir satu minggu penuh aku merasa kota ini lumayan tidak panas dan menyengati lagi seperti hari-hari biasa, apalagi debunya yang biasa bertebaran sudah mulai berkurang, tapi jadi rada malas mandi pagi uey, heheheee…… dingin bro!!!!. Hari ini (jum’at) sudah sepekan rasanya yang kuingat awal turunnya hujan tersebut. Pun demikian rutinitas para masyarakat dikotaku ini tak terlalu mengganggu mereka. Begitu juga dengan aku, aktivitas terus berlangsung walaupun kemarin sempat hujan-hujanan sebentar, karena jas hujan aku ketinggalan ditempat orang tua.
sekarang dikotaku BBM Premium lagi sukar dicari, sampai-sampai di eceran harganya melambung tinggi, ada yang sampai jualan harganya yang tidak masuk di akal sehat, seperti yang kutemui kemarin malam. Aku sempat beli di eceren karena malas ngantri di SPBU yang bisa membuang banyak waktu ku, (heeee…. Seperti orang yang menghargai waktu saja), dengan harga Rp. 9.000, “bujur kah cil harganya seitu, larangnya pang? / betul ya bu harganya segitu, mahal nya?” kataku, dengan cetus ibu tadi bilang kepadaku “aku gen belinya larang jua ding’ai lawan sopir taksi nukar harga Rp. 8.000 / saya juga mahal belinya de’ dengan sopir taksi beli dengan harga Rp. 8.000” jawab ibu tadi. Dengan berat hati saya mau saja beli dengan harga begitu mahalnya karena persediaan bensin di tangki motorku sudah lumayan sekarat.
sekarang dikotaku BBM Premium lagi sukar dicari, sampai-sampai di eceran harganya melambung tinggi, ada yang sampai jualan harganya yang tidak masuk di akal sehat, seperti yang kutemui kemarin malam. Aku sempat beli di eceren karena malas ngantri di SPBU yang bisa membuang banyak waktu ku, (heeee…. Seperti orang yang menghargai waktu saja), dengan harga Rp. 9.000, “bujur kah cil harganya seitu, larangnya pang? / betul ya bu harganya segitu, mahal nya?” kataku, dengan cetus ibu tadi bilang kepadaku “aku gen belinya larang jua ding’ai lawan sopir taksi nukar harga Rp. 8.000 / saya juga mahal belinya de’ dengan sopir taksi beli dengan harga Rp. 8.000” jawab ibu tadi. Dengan berat hati saya mau saja beli dengan harga begitu mahalnya karena persediaan bensin di tangki motorku sudah lumayan sekarat.
Kemarin aku lewat di sebuah SPBU, masih banyak masyarakat kotaku yang rela antri untuk mendapatkan harga yang standart padahal waktu itu hujan terus mengguyur kota ku tercinta ini. “nekat betul hujan-hujan seperti ini mau ngantri” kataku dalam hati. Memang sih pemerintah kotaku sedang mencari solusi agar tidak lagi terjadi kelangkaan BBM khususnya premium seperti ini, kemarin aku sempat baca di media lokal bahwa pemerintah provinsi akan memberikan kebijakan harga untuk BBM Premium ini, tapi kita mesti sabar dulu lah, kenapa? Hehehee…. kan pimpinannya masih di luar negeri sana yang aku baca di media tersebut sih, katanya beliau sedang atau lagi meresmikan asrama mahasiswa. Uuueeeaaaanak betul ya jadi pejabat, bisa keluar negeri, jadi mesti nunggu beliau pulang dong, hehehehe…….., kapan ya?.
Dari pihak aparat kepolisian pun tidak tinggal diam dalam menyikapi persoalan kelangkaan BBM ini. Mereka langsung menindak tegas bagi para pelangsir dan penimbun BBM. Seperti diketahui setelah para SPBU dilarang menjual kepada pengecer, para pelangsir ramai memanpaatkan kesempatan ini, mereka berkali-kali mengisi BBM di SPBU lewat tangki kendaraan mereka seperti para sopir taksi maupun sepeda motor yang bertangki besar atau tangki kecil yang di modif jadi besar untuk dijual kepada pengecer.Hasilnya pihak kepolisian berhasil menangkap seorang pelangsir, yang setelah diinterogasi hasil dari langsiran tersebut dia berhasil meraup keuntungan Rp. 180.000 per 4 jam ngantri.
Kalau menurut aku sih sebaiknya yang ditertibkan adalah harga di eceran, kenapa? Kalau di eceran harganya bisa ditekan, orang malas untuk ngantri ber jam-jam di SPBU. Contoh, kalau harga di eceran yang sekarang harganya berkisar Rp. 8.000’an ditetapkan harus menjual dengan selisih harga Rp. 500 dari harga standar, kalau melewati selisih harga tersebut ditindak tegas. Jadi masyarakat malas ngantri lama-lama di SPBU, mendingan beli di eceran saja, kan harganya cuma selisih harga Rp. 500, dan para pelangsir pun tidak bisa jual dengan harga mahal ke pengecer.
Itu sih pendapat saya, bagaiman dengan anda….?











